RESENSI BUKU
Judul : Iman Melawan Nalar: Perdebatan Joseph Ratzinger melawan Juergen Habermas
Editor : Giancarlo Bosetti
Penerbit : Kanisius, Yogyakarta
Cetakan : Agustus 2009
Tebal : 87 halaman
Buku ini menceritakan tentang perdebatan antara dua tokoh, yaitu Joseph Ratzinger seorang teolog Katolik yang sangat memegang erat doktrin Gereja dan Juergen Habermas seorang filsuf yang tidak pernah puas dan sangat skeptis.
Perdebatan dimulai dengan dinamika perkembangan modernisasi, yaitu telah terjadi titik balik dalam hubungan antara agama dan kehidupan bermasyarakat, tepatnya adalah zaman sekarang ini. Dalam sejarah klasik perkembangan sekularisasi yang menitik beratkan pada pemisahan diri dari agama, dan ternyata ada suatu keteguhan hati terhadap agama dan kecenderungan yang semakin kuat untuk diperdebatkan dalam ranah publik. Artinya bahwa semakin santernya pembahasan tentang kebenaran-kebenaran doktrin agama diruang publik. Hal ini bertentangan dengan dugaan klasik bahwa semakin sekuler orang akan semakin tidak perduli dengan agama dan cenderung mereduksikannya kedalam dimensi pribadi.
Titik balik diataslah yang menjadi dasar perdebatan antara Ratzinger dan Habermas yang diprakarsai oleh Akademi Khatolik di Muenchen, Baviera, Jerman, Pada bulan Januari 2004. Sesuai dengan tema yang diangkat: “Apa yang Dimiliki Bersama oleh Dunia Ini? Dasar-dasar Moral Prapolitis dari Negara Liberal”, kedua tokoh tersebut memperdebatkan tentang kemungkinan-kemungkinan sekaligus menganalisis masa depan agama dalam dunia modern.
Dari perebatan kedua tokoh tersebut, memiliki pemahaman dan pandangan yang sama, yaitu peranan agama dalam dunia modern sekarang ini. Dan muncul konsep yang disepakati bersama dalam perbincangan Habermas dan Ratzinger adalah pascasekular. Perbincangan kedua tokoh tersebut yang menitik beratkan pada hubungan agama dan kehidupan bermasyarakat yang kemudian dalam buku ini menjadi pemabahasan. Pasca sekuler yang dimaksudkan oleh kedua tokoh tersebut dapat diartikan secara sederhana, yaitu bahwa semakin banyak memperdebatkan religiusitas dalam ranah publik akan menjadikan agama semakin kuat.
Dalam perdebatan ini Seorang Teolog yang sangat mempertahankan kebenaran doktrin Gereja, kelihatan cukup moderat dengan mengingatkan kembali kejadian 11 September 2001. Peristiwa tersebut diinspirasikan oleh keyakinan religius yang membenarkan terorisme Islam untuk melawan masyarakat Barat. Tetapi menurut Ratzinger, mutlak perlu melakukan suatu refleksi universal tentang “fanatisme religius” dan bukan “fanatisme Islam” seperti yang mungkin diharapkan para pendukungnya. Dia menyadari sepenuhnya bahwa kekerasan yang muncul atas nama agama perlu disikapi dengan amat bijak, tidak hanya dengan menggunakan macam-macam pendekatan, tetapi juga dengan kesadaran penuh bahwa kedamaian tidak akan tecapai lewat pemusnahan pihak lain dari muka bumi ini melalui perkembangan “sangkar besi” weberian tentang ekonomi kapitalis. Sangkar besi secara sederhana dapat dikatakan sebagai invasi atau menekan negara lain, tetapi harus ada proses penyelesaiannya yang melibatkan seluruh umat manusia, dan karena itu harus melibatkan seluruh agama dan kebudayaan lain didunia ini. Jawabannya bukan pula terletak pada perang agama dan jawaban itu tidak pula ditemukan dalam perang sipil.
Maka dari itu Ratzinger mengusulkan jawaban, yaitu adanya perjanjian antar iman dan nalar. Iman yang dimaksudkan oleh Ratzinger lebih pada nilai-nilai agama. Karena sudah sejak lama iman diyakini dengan teguh bahwa nalar itu mutlak perlu bagi iman, tetapi sekarang ditambah dengan suatu aktualitas baru: iman tidak hanya memberikan dasar kepada nalar untuk bekerja, tetapi berdialog untuk menentukan batas bidang kompetensi masing-masing. Artinya bahwa ada kepercayaan timbal-balik antara iman dan nalar dalam batasan masing-masing. Dalam perjanjian ini, iman mempercayakan diri pada nalar untuk membatasi kecenderungan iman untuk menjadi eksklusif, di lain pihak, nalar dan iman akan saling memberikan pengakuan akan kompetensi masing-masing.
Ratzinger mengatakan, nalar dan iman harus menyediakan tempat untuk berdialog. Nalar dan iman dapat saling belajar satu sama lain, yang satu berperan sebagai tapal batas bagi yang lain. Iman dan nalar perlu saling bertindak sebagai check and balance, yang berfungsi sebagai mekanisme kontrol dan rem jika terjadi ekses. Dalam hubungan ini, keduanya dapat saling memperkaya satu sama lain karena menjadi kekuatan komplementer.
Sedangkan Habermas melihat dari perspektif yang berbeda dengan Ratzinger, Habermas lebih menitik beratkan pada ranah politik. Habermas berangkat dari sebuah tesis, bahwa otonomi moral dan historis negara liberal itu menyatu dengan masyarakat sipil yang bersandar pada dasar-dasar prapolitis. Maka interaksi antara tradisi religius yang tersebar dalam masyarakat dan perubahan-perubahan yang terjadi karenanya sangat mempengaruhi kelangsungan hidup negara liberal. Habermas berpendapat bahwa lebih baik bersandar pada fakta empiris daripada masuk ke dalam teori umum tentang hal ini: walaupun lingkungan semakin menjadi sekuler, agama masih tetap bertahan. Filsafat harus memperhatikan fakta ini secara serius bukan haya sebagai faktor sosial, tetapi juga sebagai tantangan kognitif. Wilayah perbatasan tentang apa yang diwartakan oleh agama dalam kehidupan sosial zaman ini merupakan wilayah yang masih perlu dikaji dalam dialog yang sungguh-sungguh.
Kira-kira inilah yang menjadi isi pokok refleksi Habermas yang muncul dari pembicaraannya dengan Ratzinger. Agama dan nalar sekarang ini haruslah mempunyai sikap saling belajar satu sama lain, dan tidak melihat sekularisasi sebagi bentuk imperealisme yang satu terhadap yang lain, tetapi sebagai suatu “Pembelajaran Konplementer”.
Dari perdebatan kedua tokoh tersebut menggunakan sudut pandang masing-masing, memberikan gambaran dan penjelasan berbagai hal. Pendekatan filsafat dan teologi digunakan sebagai pisau bedah. Dari kedua tokoh tersebut dapat katakan bahwa, pertama, Ratzinger cukup moderat dalam melihat fakta sosial, misalnya dengan kritikan terhadap kejadian 11 November, tetapi dilain pihak Ratzinger tetap mempertahankan nilai-nilai kebenaran doktrin gereja, khususnya nilai-nilai Katolik. Namun dilain pihak Ratzinger lebih membenarkan kebenaran agama, padahal Ratzinger secara jelas mengkritik kejadian tersebut, hal ini letak Ratzinger dalam kemoderatannya dapat dikatakan “moderat Palsu”. Ratzinger sendiri dilatarbelakangi sebagai Kardinal, yang menduduki jabatan Santo Petrus yang secara jelas menjaga kebenaran agama yang tidak pernah salah. Kedua, Habermas yang merupakan seorang filsuf lebih menitik beratkan pada fakta empiris, dan tidak masuk dalam ranah absrtak tentang agama. Namun Habermas sendiri mengakui tentang usulan tentang perjanjian iman dan nalar, yang sebenarnya Habermas sendiri lebih mementing apa yang dapat dilihat secara langsung. Pengakuan Habermas tentang perjanjian iman dan nalar merupakan pembelajaran timbal balik, artinya bahwa adanya sikap mau saling belajar antara satu dengan yang lain. Kesepakatan akan adanya perjanjian iman dan nalar yang juga diakui oleh Habermas, hal ini meletakkan Habermas sedikit keluar dari fokusnya yang mengutamakan fakta empirik.
Menurut saya, perdebatan antara kedua tokoh tersebut dapat bermanfaat, karena dapat memberikan gambaran dan penjelasan tentang letak iman dan juga nalar. Iman dapat diletakkan dalam nilai-nilai kepercayaan, sedangkan nalar dapat diletakkan sebagai dasar untuk melakukan aktivitas kehidupan. Tetapi dalam peletakan hal tersebut perlu diingat bahwa kedua hal tersebut saling mempercayai dan adanya hubungan timbal balik. Artinya bahwa iman dan nalar harus saling belajar, sehingga dapat memahami letak dan batasan masing-masing.
Sabtu, 14 Mei 2011
Sumba Dalam Bayangku
Saya adalah orang sumba, Putra asli Sumba, terlahir dan besar di sumba. Tulisan ini saya tulis untuk mengenang tanahku yang memberikan segalanya untukku. Tema yang saya angkatpun adalah Sumba Dalam Bayangku, hal ini sengaja saya tulis untuk di jadikan sebuah cahaya untuk mengenang Sumba yang berjasa besar bagi pertualangan hidupku.
Bagi banyak orang Sumba identikkan dengan daerah yang primitif, daerah yang masih memeluk Agama Marapu, daerah yang banyak kuda liarnya, sampai-sampai di ketawain teman-teman yang bukan orang Sumba. Dalam bayangan mereka kuda liar adalah kuda yang tidak ada pemiliknya, padahal kuda-kuda tersebut memiliki tuan. Tidak dipersoalkan anggapan mereka dan wajar saja kalau anggapan kuda liar itu berlebihan, karena memang yang terjadi kuda-kuda tersebut dilepas berkeliaran dipadang sabana yang luas untuk memncari makannya sendiri. Saking membayakan kuda liar nyantol juga di susu kuda liar (saya belum pernah mencicipi susu kuda liar).
Namun, teman-teman yang menertawakan keberadaan kuda liar tertantang untuk mengunjungi sumba. Perkiraan saya adalah mungkin salah satunya ingin melihat kuda liar sehingga ada niat mereka untuk berkunjung ke sumba. Bukan hanya kuda liarnya saja, varian wisata lain juga tidak kalah menarik untuk dinikmati dan dikunjungi.
Membayangkan Sumba dari Tanah Seberang.
Mengenang sumba yang merupakan tanah kelahiran sebuah ekspresi yang tidak berlebebihan, akan tetapi hal yang wajar. Secara pribadi saya memandang sumba sebagai “Surga”. Surga dalam tanda kutip bermaksud bukan seperti surga yang pernah diajarkan dalam agama-agama, namun surga yang memberikan kebahagian bagiku.
Secara garis besar sumba masih sangat tertinggal dengan daerah lain, seperti jawa, namun seiring berjalannya waktu pembangunan terus digalakkan apalagi diera otonomi daerah. Bagi banyak orang, sumba masih sangat terbelakang, masih tertinggal, masih kurang segala-galanya, akan tetapi bagi ku sumba adalah kebahagianku. Tak berlebihan ketika saya mengatakan demikian, karena memang saya dibesarkan dengan budayanya.
Menjadi orang sumba memberikan kebahagian yang terbesar dalam hidupku. Pengalaman sejak kecil sampai besar mengantar saya sebagai orang sumba tulen yang mencintai karya-karyanya. Sebagai seoarang yang mencari secercah harapan di tanah orang membawaku dalam ruang keheningan untuk mengenangnya. Berpisah dengan surgaku tidak memudarkan semangat dan cintaku terhadapnya. Bayangan selalu teringat adalah ringkik kudamu dan wangi cendanamu.
Kekuatan Marapu Masih Bertahan
Mungkin sumba merupakan salah satu daerah di Indonesia yang mempertahankan budayanya. Masyarakat sumba masih menjalankan budaya Marapu. Marapu menjadi falsafah hidup bagi berbagai ungkapan budaya Sumba. Marapu merupakan kepercayaan terhadap roh nenek moyang/leluhur. Kepercayaan ini masih hidup ditengah-tengah masyarakat Sumba.
Kekuatan Marapu masih sangat kuat, masyarakat Sumba masih menjalankan ritus-ritus Marapu dalam kehidupan sehari-harinya. Marapu mendasari segala aspek kehidupan masyarakat Sumba, dan hal ini yang kemudian menjadi landasan bergeraknya orang sumba. Dalam era modernisasi, masyarakat sumba masih mempertahankan budaya Marapu, walaupun tidak dapat dipungkiri ada sebagian yang sudah melupakan. Namun pada umumnya Budaya marapu masih hidup di tengah-tengah masyarakat.
Budaya marapu sudah mendarah daging disetiap masyarakat sumba, tidak terkecuali saya. Satu pengalaman, saya ditanyakan teman tentang agama saya, dengan spontanitas saya menjawab saya agama Marapu. Padahal dalam KTP saya jelas-jelas Agama Kriten Protestan.hehehehe. parah. Setelah saya menjawab pertanyaan itu baru menyadari bahwa saya beragama Kristen, dan saya beranggapan tak apalah, mungkin memang Marapu sudah melekat kuat dalam diriku sehingga saya menjawab demikian.
Beriringan dengan saya masih berfikir dengan jawaban yang tadi, teman saya juga melanjutkan pertanyaannya, kenapa kamu mengatakan demikian? Jawabku, yah,,itu mungkin ekspresi saya terhadap kearifan (kekayaan budaya daerahku) daerahku.
Teman saya semakin penasaran dan melanjutkan pertanyaannya. Mengapa kamu sangat bangga dengan kepercayaan Marapumu? Saya bukan menjawab, namun bertanya balik, kenapa kamu bangga dengan kepercayaanmu saat ini, padahal kalau dipikir itu budaya (agama) luar yang di bawa kesini, padahal sebenarnya nenek moyangmupun memiliki kepercayaan suku sebelumnya. Teman saya menjawab, karena agamaku mengajarkan tentang kasih. Dan saat itu saya menjawab, bahwa Marapupun mengajarkan hal yang sama, cuman pendekatannya yang berbeda. Saya menyambung dengan memberikan perumpamaan, satu tambah satu hasilnya dua, tiga kurang satu hasilnya juga dua, artinya kedua hasil tersebut sama, namun perbedaannya pada pendekatan, jadi tidak jauh berbeda dengan pendekatan yang digunakan agama-agama yang ada.
Temanku ini tidak merasa puas dengan jawaban saya. Dengan spontan saya mengatakan demikian, ngapain kita membahas agama, wong kita tidak percaya agama. Kitakan percaya Tuhan, bukan agama bro, untuk itu kita bahas yang lain saja. Akhirnya kamipun mencari topik lain untuk di diskusikan.
Berkaitan dengan cerita pengalaman saya, menceritakan sumba menjadi suatu semangat yang menggebu-gebu. Karena, setiap orang sumba sangat bangga menjadi orang sumba.
Sebagai persembahan terhadap tanah kelahiranku saya hanya menaruh harapanku untuk tetap terjaga dan menjadi tempat yang selalu dikenang dan tak akan dilupakan. Sumba engkau adalah nafasku, engkau adalah jiwaku, engkau adalah rohku. I Love Sumba and God Bless.
Bagi banyak orang Sumba identikkan dengan daerah yang primitif, daerah yang masih memeluk Agama Marapu, daerah yang banyak kuda liarnya, sampai-sampai di ketawain teman-teman yang bukan orang Sumba. Dalam bayangan mereka kuda liar adalah kuda yang tidak ada pemiliknya, padahal kuda-kuda tersebut memiliki tuan. Tidak dipersoalkan anggapan mereka dan wajar saja kalau anggapan kuda liar itu berlebihan, karena memang yang terjadi kuda-kuda tersebut dilepas berkeliaran dipadang sabana yang luas untuk memncari makannya sendiri. Saking membayakan kuda liar nyantol juga di susu kuda liar (saya belum pernah mencicipi susu kuda liar).
Namun, teman-teman yang menertawakan keberadaan kuda liar tertantang untuk mengunjungi sumba. Perkiraan saya adalah mungkin salah satunya ingin melihat kuda liar sehingga ada niat mereka untuk berkunjung ke sumba. Bukan hanya kuda liarnya saja, varian wisata lain juga tidak kalah menarik untuk dinikmati dan dikunjungi.
Membayangkan Sumba dari Tanah Seberang.
Mengenang sumba yang merupakan tanah kelahiran sebuah ekspresi yang tidak berlebebihan, akan tetapi hal yang wajar. Secara pribadi saya memandang sumba sebagai “Surga”. Surga dalam tanda kutip bermaksud bukan seperti surga yang pernah diajarkan dalam agama-agama, namun surga yang memberikan kebahagian bagiku.
Secara garis besar sumba masih sangat tertinggal dengan daerah lain, seperti jawa, namun seiring berjalannya waktu pembangunan terus digalakkan apalagi diera otonomi daerah. Bagi banyak orang, sumba masih sangat terbelakang, masih tertinggal, masih kurang segala-galanya, akan tetapi bagi ku sumba adalah kebahagianku. Tak berlebihan ketika saya mengatakan demikian, karena memang saya dibesarkan dengan budayanya.
Menjadi orang sumba memberikan kebahagian yang terbesar dalam hidupku. Pengalaman sejak kecil sampai besar mengantar saya sebagai orang sumba tulen yang mencintai karya-karyanya. Sebagai seoarang yang mencari secercah harapan di tanah orang membawaku dalam ruang keheningan untuk mengenangnya. Berpisah dengan surgaku tidak memudarkan semangat dan cintaku terhadapnya. Bayangan selalu teringat adalah ringkik kudamu dan wangi cendanamu.
Kekuatan Marapu Masih Bertahan
Mungkin sumba merupakan salah satu daerah di Indonesia yang mempertahankan budayanya. Masyarakat sumba masih menjalankan budaya Marapu. Marapu menjadi falsafah hidup bagi berbagai ungkapan budaya Sumba. Marapu merupakan kepercayaan terhadap roh nenek moyang/leluhur. Kepercayaan ini masih hidup ditengah-tengah masyarakat Sumba.
Kekuatan Marapu masih sangat kuat, masyarakat Sumba masih menjalankan ritus-ritus Marapu dalam kehidupan sehari-harinya. Marapu mendasari segala aspek kehidupan masyarakat Sumba, dan hal ini yang kemudian menjadi landasan bergeraknya orang sumba. Dalam era modernisasi, masyarakat sumba masih mempertahankan budaya Marapu, walaupun tidak dapat dipungkiri ada sebagian yang sudah melupakan. Namun pada umumnya Budaya marapu masih hidup di tengah-tengah masyarakat.
Budaya marapu sudah mendarah daging disetiap masyarakat sumba, tidak terkecuali saya. Satu pengalaman, saya ditanyakan teman tentang agama saya, dengan spontanitas saya menjawab saya agama Marapu. Padahal dalam KTP saya jelas-jelas Agama Kriten Protestan.hehehehe. parah. Setelah saya menjawab pertanyaan itu baru menyadari bahwa saya beragama Kristen, dan saya beranggapan tak apalah, mungkin memang Marapu sudah melekat kuat dalam diriku sehingga saya menjawab demikian.
Beriringan dengan saya masih berfikir dengan jawaban yang tadi, teman saya juga melanjutkan pertanyaannya, kenapa kamu mengatakan demikian? Jawabku, yah,,itu mungkin ekspresi saya terhadap kearifan (kekayaan budaya daerahku) daerahku.
Teman saya semakin penasaran dan melanjutkan pertanyaannya. Mengapa kamu sangat bangga dengan kepercayaan Marapumu? Saya bukan menjawab, namun bertanya balik, kenapa kamu bangga dengan kepercayaanmu saat ini, padahal kalau dipikir itu budaya (agama) luar yang di bawa kesini, padahal sebenarnya nenek moyangmupun memiliki kepercayaan suku sebelumnya. Teman saya menjawab, karena agamaku mengajarkan tentang kasih. Dan saat itu saya menjawab, bahwa Marapupun mengajarkan hal yang sama, cuman pendekatannya yang berbeda. Saya menyambung dengan memberikan perumpamaan, satu tambah satu hasilnya dua, tiga kurang satu hasilnya juga dua, artinya kedua hasil tersebut sama, namun perbedaannya pada pendekatan, jadi tidak jauh berbeda dengan pendekatan yang digunakan agama-agama yang ada.
Temanku ini tidak merasa puas dengan jawaban saya. Dengan spontan saya mengatakan demikian, ngapain kita membahas agama, wong kita tidak percaya agama. Kitakan percaya Tuhan, bukan agama bro, untuk itu kita bahas yang lain saja. Akhirnya kamipun mencari topik lain untuk di diskusikan.
Berkaitan dengan cerita pengalaman saya, menceritakan sumba menjadi suatu semangat yang menggebu-gebu. Karena, setiap orang sumba sangat bangga menjadi orang sumba.
Sebagai persembahan terhadap tanah kelahiranku saya hanya menaruh harapanku untuk tetap terjaga dan menjadi tempat yang selalu dikenang dan tak akan dilupakan. Sumba engkau adalah nafasku, engkau adalah jiwaku, engkau adalah rohku. I Love Sumba and God Bless.
Senin, 09 Mei 2011
Momentum Fenomenal Sumpah Pemuda
Tanggal 28 Agustus 2010 mengingatkan kita kembali pada 86 tahun yang lalu, dimana perwakilan-perwakilan pemuda Nusantara berkumpul di Jakarta untuk mempersatukan semangat menuju Indonesia yang bersatu. Sekilas memikirkan memang tidak ada yang unik dari momentum tersebut, selain kisah heroik anak bangsa yang bergelut pada masa-masa revolusi.
Pernyataan sikap tentang satu tanah air, bangsa, dan bahasa mengaktualisasikan semangat kebangsaan yang beraneka ragam identitas. Rumusan perbedaan itu melebur dalam semangat kesatuan dan persatuan atau yang sering disebut dengan Bhinneka Tunggal Ika (berbeda-beda tetap satu jua) menjadi dasar semangat pengakuan terhadap identitas Indonesia yang sangat beragam dan multikultur. Keanekaragaman kultur Indonesia ini menjelaskan bahwa perbedaan ini adalah salah satu pemersatu yang menjelaskan keindahan kultur Indonesia.
Semangat Sumpah Pemuda yang dipelopori Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) menjadi pengantar sejarah semangat perjuangan pemuda Nusantara waktu itu. Kongres Pemuda II menghasilkan sumpah setia terhadap eksistensi kebangsaan. Sumpah itu kemudian dikenal dengan Sumpah Pemuda yang mengisyaratkan bahwa persatuan dan kesatuan hanya bisa diraih dengan pemahaman tentang sejarah bangsa, bahasa, pendidikan, dan kemauan untuk bangkit dan sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Sumpah Pemuda inilah yang mengubah paradigma bangsa dari bangsa yang terjajah menjadi bangsa yang bertekad meraih kemerdekaan dengan dukungan peran pemuda yang terdidik dan terpelajar.
Momentum fenomenal
Sumpah Pemuda menjadi momentum fenomenal yang menginspirasi semangat kebangsaan dan kesatuan sampai saat ini. Momentum ini menguburkan perbedaan-perbedaan yang ada dan melebur dalam satu semangat satu tanah air, bangsa, dan bahasa.
Sumpah Pemuda menjadi momentum fenomenal yang menginspirasi semangat kebangsaan dan kesatuan sampai saat ini. Momentum ini menguburkan perbedaan-perbedaan yang ada dan melebur dalam satu semangat satu tanah air, bangsa, dan bahasa.
Cerminan persatuan dan kesatuan ini merefleksikan keadaan pemuda saat ini. Terlepas dari sejarah perjuangan waktu itu, pemuda yang dikenal dengan agen perubahan memiliki beban moral yang besar dalam perjalanan bangsa ini. Jatuh bangunnya bangsa ini tidak terlepas dari tanggungjawab generasi-generasi muda Indonesia, karena masa depan negara ini terletak pada pundak para pemuda bangsa ini.
Momentum fenomenal ini merupakan goresan tinta sejarah bangsa Indonesia dan tidak pernah kering untuk menuliskan peran kaum muda dalam momentum perjuangan bangsa. Pemikiran dan gagasan kaum muda selalu menjadi inspirasi kebangkitan bangsa ke arah perubahan. Perjuangan kaum muda pada saat itu telah mengantar bangsa ini sampai pada gerbang kemerdekaan yang kita rasakan sampai saat ini. Pertanyaannya adalah: kemerdekaan yang seperti apakah?
Pertanyaan di atas akan menjadi pertanyaan reflektif bagi pemuda-pemuda saat ini, khususnya mahasiswa. Perlu disadari bahwa tanggungjawab mahasiswa sangatlah besar, untuk itu refleksi diperlukan untuk mengenang 86 tahun yang lalu dan memikirkan apa yang harus dilakukan saat ini sebagai pemuda harapan bangsa.
Dengan demikian ada beberapa hal yang perlu menjadi pemikiran pemuda. Pertama, inspirasi masa lalu harus menjadi dasar filosofis yang menginspirasi kebangkitan bangsa dari keterpurukan. Kedua, semangat masa lalu bias menjadi dasar menjajal era modern dan globalisasi dalam membebaskan manusia Indonesia, bukan sebaliknya. Daya kritis dan energi positif tidak boleh dijadikan penghambat, melainkan akselerator dan dinamisator masa depan.
Tantangan jaman
Perubahan zaman telah mengubah paradigma bangsa ini, yang dulu adalah murni perjuangan fisik melawan penjajahan, sekarang menjadi perjuangan kesadaran dalam penguasaan iptek. Perkembangan iptek telah banyak memproduksi kemudahan manusia. Salah satu hasil iptek adalah perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu pesat. Kesadaran untuk maju di alam modern ditentukan oleh seberapa besar kehendak dan respon pemuda terhadap dinamika zaman. Era globalisasi yang ditandai dengan akselerasi kemajuan teknologi seakan-akan mengarahkan paradigma manusia, bahwa penguasaan dan perubahan itu sendiri akan terjadi hanya ketika pemanfaatan, penguasaaan, dan eksplorasi teknologi yang sebesar-besarnya terjadi.
Perubahan zaman telah mengubah paradigma bangsa ini, yang dulu adalah murni perjuangan fisik melawan penjajahan, sekarang menjadi perjuangan kesadaran dalam penguasaan iptek. Perkembangan iptek telah banyak memproduksi kemudahan manusia. Salah satu hasil iptek adalah perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu pesat. Kesadaran untuk maju di alam modern ditentukan oleh seberapa besar kehendak dan respon pemuda terhadap dinamika zaman. Era globalisasi yang ditandai dengan akselerasi kemajuan teknologi seakan-akan mengarahkan paradigma manusia, bahwa penguasaan dan perubahan itu sendiri akan terjadi hanya ketika pemanfaatan, penguasaaan, dan eksplorasi teknologi yang sebesar-besarnya terjadi.
Negara-negara di belahan dunia lain sebagai sumber globalisasi sangat memahami pentingnya penguasaan teknologi informasi dan komunikasi. Tidak heran jika penguasaan terhadapnya telah menjadi sumber utama kemajuan kehidupan mereka. Tidak heran jika penguasaan teknologi informasi dan komunikasi telah menjadikan mereka sebagai penguasa ekonomi di dunia. Dengan momentum Sumpah Pemuda ini, pemuda harus becermin untuk selalu meningkatkan kualitas diri, sehingga dapat mengusai perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.
Tidaklah cukup selalu berharap pada kejayaan masa lalu. Artinya, jangan hanya bereuforia dengan semangat masa lalu. Potensi pemuda begitu besar dalam proses pembangunan bangsa ini, maka dari itu akhir tulisan ini: percumalah hidup ini kalau masa muda hanya untuk bersenang-senang, karena kegagalan akan selalu mengiringimu.
Tulisan ini sudah di muat di Scientiarum.com
pada tanggal 29 October 2010
Masa Depan Tak Jelas
Sore itu, sekitar pukul 15.00 WIB (kurang lebihnya begitu). Kami memulai pembicaraan mengenai kehidupan, cinta, Tuhan, Sosial, Ekonomi, Politik, dan banyak lagi. Cerita yang yang berlangsung kelihatannya tanpa titik maupun koma, mengalir begitu saja. Hal itu terjadi, mungkin karena kondisi cafeteria UKSW yang begitu bersahaja dan memberikan ruang bebas untuk setiap orang berkreasi.
Cerita kami berlanjut terus dengan ditemani segelas kopi hitam dan beberpa batang rokok yang terletak diatas meja depan kami berdua. Menjadi semakin menarik pembericaraannya dengan senggolan sedikit teori-teori yang pernah kami baca di buku-buku. Adapun itu semisal konsep kesadaran, eksistensi, sosiologi, ekonomi, dll. Kami mengaitkan banyak hal dalam diskusi kami tersebut.
Tanpa terasa waktupun semakin sore dan menjelang malam, seiring dengan itu membawa kami membicarakan masa depan yang dihadapi nanti. Kalimat pertama yang terungkap adalah kita ini tidak jelas, karena kita kuliah saja di tentukan oleh orang tua yang secara tidak langsung masa depan kita ditentukan oleh orang tua. Akhirnyapun saya bertanya mampukah kita bebas?. Kami berduapun bingung memecahkan pertanyaan tersebut. Teman saya mengatakan, memang kita diciptakan menjadi manusia bebas, namun karena kita hadir ditengah banyak orang ya kita harus mengikuti aturan banyak orang (aturan yang berlaku), begitu hal dalam kehidupan rumah tangga, sebagai anak kita terikat kontrak (kayak kontrak kerja aja…hahahhaa) dengan orang tua.
Kembali lagi saya lontarkan pertanyaan, bahwa kita hidup dalam bayang-bayang dong?
Jawabannya, bisa dikatakan demikian. Karena kita dibayangi dengan segala macam harapan (secara tidak langsung itu mengikat kita untuk menjalani semua perintah orang tua) orang tua yang sudah dititahkan pada kita, dan itu sudah terjadi sejak kita masih dalam kandungan, bahkan masih ketika baru diprogramkan sebagai anak (kayak program kerja LK saja..wkwkwkwkwk). Akhirnya kami menyadari bahwa memang menjadi anak lebih berat ketika menjadi orang tua, kenapa?. Semua harapan orang tua maupun masyarakat harus dilakukan oleh si anak. Memang banyak kejadian pemberontakan yang dilakukan oleh anak, namun, pemberontakan itu akan terpental ketika kita memikirkan jasa orang tua yang begitu besar terhadap kita sampai besar seperti sekarang ini.
Sayapun bertanya lagi, apakah hanya kita memikirkan masa depan kemudian semuanya akan terlaksana dalam keadaan sadar?
Satu pertanyaan ini kayak menjebakku dalam satu kurungan jeruji besi. saya merenung sejenak dan mulai memikirkan, ya, seharusnya masa depan itu kita yang tentukan sendiri, namun orang tua hanya menitipkan harapan supaya kita menjadi yang terbaik kedepannya. Tetapi disisi lain saya berfikir apakah hanya dengan ketersedian diri kita masa depan itu akan dapat terwujud?.
Saya mulai memikirkan kembali apa yang didiskusikan (diskusi dalam FB) oleh dua orang teman saya yaitu, Lussua dan Fredy berkaitan dengan kesadaran. Saya berfikir mungkin kesadaran itu di barengi dengan impian manusia, karena mungkin melalui impian manusia belajar mempunyai tujuan masa depan. Dengan Referensi berdiskusi dan membaca Note teman di FB, saya memikirkan masa depan saya seharus seperti apa. Mungkin jadi tukan ojek kali ya,…hehehehehheeee
Mungkin semua ini sebagai reflektif bagi saya untuk bangkit menatap masa depan yang masih kabur, sehingga dapat melaluinya dengan kesiapan yang matang.
Jumat, 29 Oktober 2010
BUSANA ADAT SUMBA DAN MAKNANYA DALAM SISTEM BUDAYA SUMBA
Pendahuluan
Secara garis besar sumba terbagi atas empat kabupaten, yaitu, kabupaten Sumba Timur, Sumba Barat, Sumba Tengah dan Sumba Barat Daya. Masyarakat Sumba cukup mampu mempertahankan kebudayaan aslinya ditengah-tengah arus pengaruh asing yang telah singgah di kepulauan SUMBA sejak dahulu kala. Kepercayaan asli orang Sumba yaitu, Marapu, kepercayaan terhadap roh nenek moyang/leluhur mereka. Kepercayaan ini masih hidup ditengah-tengah masyarakat Sumba. Marapu menjadi falsafah hidup bagi berbagai ungkapan budaya Sumba. Mulai dari upacara-upacara adat, rumah-rumah ibadat (umaratu) rumah-rumah adat dan tata cara rancang bangunannya, ragam-ragam hias ukiran-ukiran dan tekstil sampai dengan pembuatan perangkat busana seperti hinggi (kain) dan lawu (sarung) serta perlengkapan perhiasan dan senjata.
Sumba sangat terkenal dengan strata sosial, terlebih di Sumba Timur strata sosial masih sangat kental. Strata sosial terdiri dari tiga golongan yaitu, maramba (bangsawan), kabihu (orang biasa atau orang merdeka dan pendeta), dan ata (hamba). Hal ini masih berlaku sampai sekarang, walaupun tidak setajam dimasa lalu dalam perbedaan strata sosial antara bangsawan, orang biasa atau orang merdeka, dan hamba. Sehingga dalam menggunakan pakaian adat juga sangat tergantung pada strata sosial. Misalnya dalam upacara adat tertentu, dari golongan bangsawan memakai hinggi (kain) dan lawu (sarung) yang lebih bagus/halus dari pada golongan hamba yang hanya memakai hinggi (kain) dan lawu (sarung) yang biasa-biasa saja.
Kabupaten Sumba Timur sangat terkenal tenun ikatnya yang berupa hinggi (kain) dan lawu (sarung). Penggunaan pakaian adat lebih ditunjukkan oleh tingkat kepentingan kegiatan seperti pada pesta-pesta adat, upacara-upacara perkawinan dan upacara penguburan, dimana komponen-komponen busana yang dipakai adalah simbol kehormatan dan kebiasaan yang sudah turun-temurun. Masyarakat Sumba mempunyai kententuan dalam menggunakan pakaian adat. Seperti contoh dalam upacara adat dan kematian orang Sumba harus memakai pakaian adat yang masih baru atau yang masih bagus, sedangkan yang sudah usang biasanya dipakai untuk keseharian atau dalam bekerja.
Bagian terpenting dari perangkat pakaian adat Sumba terletak pada penutup badan berupa lembar-lembar besar hinggi (kain) dan lawu (sarung). Hinggi (kain) dan lawu (sarung) tersebut, dirancang dengan teknik tenun ikat Sumba serta yang dikolaborasikan dengan aksesoris busana lain, sehingga semua busana itu dapat terungkap dalam bermacam simbol seperti, kegiatan sosial, kegiatan ekonomi, serta keagamaan orang Sumba.
Busana Adat
Setiap daerah didunia ini tentunya memiliki busana masing-masing. Busana-busana ini berhubungan erat dengan nilai-nilai budaya yang dianut oleh suatu kelompok masyarakat. Begitupun dengan masyarakat Sumba, busana adat merupakan tuangan karya dan karsa dari tatanilai Marapu (system Kepercayaan) yang dianut oleh masyarakat Sumba.
Busana adat Sumba merupakan kain sarung, dengan tenun ikat. Bangunan tenun ikat kemudian dihias dengan motif-motif khas yang masing-masing motif mempunyai makna tersendiri, dalam kebudayaan Sumba.
Busana adat Sumba kemudian dibagi menjadi dua: 1. Busana yang bersifat Maskulin, busana ini terdiri dari kain (Hinggi), dilengkapi dengan peralatan perang Kabela (parang), serta Kalumbut, sebagai tempat untuk menyimpan perbekalan. 2. Busana yang bersifat feminin. Terdiri dari Sarung (lau), kalumbut sebagai tempat perbekalan, dan beberapa hiasan mutisalak (Anahida), mas dan gading.
Budaya
Budaya adalah keseluruhan system gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik dari manusia dengan belajar. Hal tersebut berarti bahwa seluruh tindakan manusia adalah “kebudayaan” karena sedikit saja kegiatan masyarakat yang dibiasakannya dengan belajar. Setiap daerah didunia pasti punya budaya, begitu juga sumba pasti punya budaya. Dalam pembahasan ini lebih pada pakaian/busana orang sumba khususnya orang Sumba timur. Pakaian adat Sumba khususnya Sumba Timur sangat erat kaitannya dengan Marapu. Marapu sangat berperanan penting dalam setiap aspek kehidupan orang Sumba, baik itu social, politik, ekonomi, dll.
Simbol-Simbol
Manusia sebagai makluk hidup yang berakal-budi memiliki kemampuan untuk menggunakan simbol-simbol sehingga dengan demikian manusia dapat belajar dan mengembangkan kebudayaan serta mewariskannya kepada keturunannya. Hal ini berarti bahwa tanpa disadari suatu fenomena sosial budaya mengandung pesan-pesan tertentu. Agar pesan-pesan tersebut dapat diteruskan dan dapat difahami orang lain, maka pemberi makna harus menyampaikannya dalam sistem konvensi simbolik tertentu. Pesan-pesan itu harus disampaikan dengan mengikuti aturan-aturan penggunaan simbol yang ada dan bersifat sosial atau kolektif. Aturan-aturan tersebut dapat didefinisikan sebagai ”pedoman untuk berperilaku menurut tata-cara tertentu”. Aturan-aturan itu tidak hanya bertalian dengan akal budi dan pengertian manusia saja, melainkan dengan seluruh pola kehi-dupannya. Dapat dikatakan bahwa semua aktifitas manusia berlangsung berdasarkan aturan-aturan tertentu, demikian pula halnya dengan penggunaan simbol-simbol
Dengan demikian manusia adalah makluk yang dipandang mampu untuk menciptakan dan mengembangkan berbagai wahana simbolik untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya kepada pihak yang lain. Kemampuan untuk melakukan pemaknaan itu mem-punyai implikasi bahwa kehidupan manusia merupa-kan kehidupan yang penuh dengan makna, sehingga fenomena sosial-budaya dapat dikatakan sebagai fenomena simbolik karena fenomena-fenomena yang muncul itu dapat dimaknai oleh pelakunya.
BUSANA ADAT PRIA
Sebagaimana telah disebutkan busana masyarakat Sumba dewasa ini cenderung lebih ditekankan pada tingkat kepentingan serta suasana lingkungan suatu kejadian dan status sosial. Perbedaan-perbedaan kecil. Misalnya busana pria bangsawan biasanya terbuat dari kain-kain dan aksesoris yang lebih halus daripada kepunyaan rakyat jelata, tetapi komponen serta tampak keseluruhannya sama. Menilik hal-hal tersebut maka pembahasan busana pria sumba ditujukan pada pakaian tradisional yang dikenakan pada peristiwa besar, upacara, pesta-pesta dan sejenisnya. Karena pada saat-saat seperti itulah ia tampil dalam keadaan terbaiknya. Busana pria Sumba terdiri atas bagian-bagian penutup kepala(Tiara), penutup badan dan sejumlah penunjangnya berupa perhiasan dan senjata tajam(Kabiala).
Sebagai penutup badan digunakan dua lembar hinggi yaitu hinggi kombu dan hinggi kaworu. Hinggi kombu dipakai pada pinggul dan diperkuat letaknya dengan sebuah ikat pinggang kulit yang lebar. Hinggi kaworu atau terkadang juga hinggi raukadama digunakan sebagai pelengkap. Di kepala dililitkan tiara patang, sejenis penutup kepala dengan lilitan dan ikatan tertentu yang menampilkan jambul. Jambul ini dapat diletakkan di depan, samping kiri atau samping kanan sesuai dengan maksud dan kepentingan sendiri. Jambul di depan misalnya melambangkan kebijaksanaan dan kemandirian. Hinggi dan tiara terbuat dari tenunan dalam teknik ikat dan pahikung. Khususnya yang terbuat dengan teknik pahikung disebut tiara pahudu.
Ragam-ragam hias yang terdapat pada hinggi dan tiara terutama berkaitan dengan alam lingkungan mahluk hidup seperti abstraksi manusia (tengkorak), udang, ayam, ular, naga, buaya, kuda, ikan, penyu, cumi-cumi, rusa, burung, kerbau sampai dengan corak-corak yang dipengaruhi oleh kebudayaan asing (Cina dan Belanda) yakni naga, bendera tiga warna, mahkota dan singa. Kesemuanya memiliki arti serta perlambang yang berangkat dari mitologi, alam pikiran serta kepercayaan mendalam terhadap marapu. Warna hinggi juga mencerminkan nilai estetis dan status sosial. Hinggi terbaik adalah hinggi kombu kemudian hinggi kawaru lalu hinggi raukadana dan terakhir adalah hinggi panda paingu.
Selanjutnya busana pria Sumba dilengkapi dengan sebilah kabiala yang disisipkan pada sebelah kiri ikat pinggang. Sedangkan pergelangan tangan kiri dipakai kanatar dan mutisalak. Secara tradisional busana pria tidak menggunakan alas kaki, namun dewasa ini perlengkapan tersebut semakin banyak digunakan khususnya didearah perkotaan. Kabiala adalah lambang kejantanan, muti salak menyatakan kemampuan ekonomi serta tingkat sosial. Demikian pula halnya perhiasan-perhiasan lainnya. Secara menyeluruh hiasan dan penunjang busana ini merupakan simbol kearifan, keperkasaan serta budi baik seseorang.
BUSANA ADAT WANITA
Pakaian pesta dan upacara wanita Sumba Timur selalu melibatkan pilihan beberapa kain yang diberi nama sesuai dengan teknik pembuatannya seperti lau kaworu, lau pahudu, lau mutikau dan lau pahudu kiku. Kain-kain tersebut dikenakan sebagai sarung setinggi dada (lau pahudu kiku) dengan bagian bahu tertutup taba huku yang sewarna dengan sarung.
Di kepala terikat tiara berwarna polos yang dilengkapi dengan tiduhai atau hai kara. Pada dahi disematkan perhiasan logam (emas atau sepuhan) yaitu maraga, sedangkan di telinga tergantung mamuli perhiasan berupa kalung-kalung keemasan juga digunakan pada sekitar leher, menjulur kegian dada.
Kesimpulan
Masyarakat sumba masih mampu mempertahankan budayanya, terlebih pakaian adat.
Pakaian adat Sumba merupakan symbol dari kebudayan, terutama sebagai wujud penghormatan terhadap Marapu.
Sumba sangat kental dengan strata sosialnya, itu juga terwujud dalam penggunaan pakaian adat.
Hinggi dan lau tidak sembarang dipakai, tetapi lebih pada tingkat kepentingan peristiwa.
Busana adat orang sumba banyak motif dan bentuk yang di pakai dalam merangkai Hinggi dan Lau.
Motif-motif tersebut bukan saja hanya sebagai symbol yang tidak memiliki arti tetapi memiliki arti yang spiritual yang sangat kental dengat kekuatan marapunya.
Daftar Pustaka
o Wellem, F. D. injil & Marapu. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004.
o Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: PT RINEKE CIPTA, 1990.
Agama Itu Bukan Candu
Pengafiran terhadap Marx bukan hal asing lagi. Dia dianggap anti-Tuhan. Hal itu disebabkan aforisme Marx tentang agama yang menyatakan agama sebagai candu dari masyarakat {It (religion) is the opium of the poeple}.
Aforisme itu sangat terkenal sekali dan sampai saat ini masih tetap menjadi kajian. Senada dengan 'pengafiran' itu adalah teori Ludwig Feuerbach yang mengkritik teosentrisme agama. Bagi Feuerbach, teosentrisme telah melupakan hakikat antroposentrisme dari agama.
Keduanya penganut mazhab materialisme. Mereka menolak bentuk-bentuk abstrak. Bagi mereka, kekuatan-kekuatan Tuhan dapat ditemukan dalam diri manusia, yakni berupa kekuatan supraindrawi yang bersemayam dalam diri manusia, akal budi (pikiran), kehendak (nafsu), dan perasaan (hati). Ini berbeda dari pandangan umum yang menganggap ketiga unsur tersebut hanya sebagai bagian dari manusia.
Menurut Feuerbach, ketika manusia ingin menggapai pertemuan dengan Tuhan. Tuhan dengan kasih sayang-Nya mewahyukan diri-Nya selaras dengan bahasa manusia, selaras dengan kodrat manusia karena jika tidak demikian, manusia tak akan sanggup memahaminya.
Sedangkan cara yang selaras baik dengan kodrat manusia maupun kesempurnaan Tuhan ialah dengan menghadirkan diri-Nya sebagai wujud kesempurnaan kodrat manusia. Wujud konkret adalah ketika manusia mengejawantahkan dirinya dalam alam material.
Dan Marx mengatakan, ''Agama sesungguhnya adalah kesadaran-diri dan penghormatan manusia atas kesejatian dirinya sendiri dalam situasi diri sejatinya belum lagi terwujud atau masih lenyap. Dan manusia sendiri bukanlah makhluk abstrak yang menghuni dunia di luar dunia ini''.
Memahami secara instan pemikiran mereka tentu membingungkan, dan boleh jadi menimbulkan beragam interpretasi. Melalui buku Agama bukan Candu perspektif lain itu terlihat ketika penulis memahami makna agama yang digali dari 'teks-teks abstrak' Marx, misalnya. Pertama, agama menurut Marx dalam perspektif penulis adalah ajaran tentang menjadi ideal, dan ajaran itu niscaya hadir dalam masyarakat yang belum mencapai wujud idealnya atau dalam masa kegelapan. Kondisi ketidakidealan itulah yang menuntut suatu agama.
Kedua, agama hadir sebagai ajaran yang bersifat eksternal dalam diri manusia, entah dalam wujud nabi, kitab suci, ataupun para pemimpin keagamaan. Dan yang kedua ini, menurut penulis, mungkin kurang disepakati Marx karena Marx mencita-citakan sebuah kondisi sosiohistoris dengan setiap individu akan menemukan pencerahan diri sendiri.
Jadi, makna 'candu' yang dimaksud Marx bukanlah sebagai surga bayangan, surga yang tidak riil, surga tidak konkret, melainkan sebagai gambaran hakikat mengenai apakah agama itu. Agama adalah impian dan harapan akan kehidupan surgawi, namun kehidupan surgawi itu bukanlah surgawi di dunia ini, melainkan di sana. Akan tetapi, bila hidup terus-menerus mencandu, secara tak langsung telah melupakan dunia sekitar, dunia dalam bermasyarakat.
Kondisi riil yang ditemukan Marx, dan masih berlanjut sampai saat ini, adalah kondisi agama hanya menjadi milik sebagian orang, agama yang borjuis-kapitalistis, dan agama yang egosentris. Bayangkan saja ketika hak interpretasi agama hanya menjadi otoritas elite agamawan, ketika agama hanya menjadi milik 'orang baik-baik', dan ketika dakwah keagamaan menjadi komoditas.
Selamat Datang Mahasiswa
Banggakah anda ketika menjadi mahasiswa?. Pertanyaan berlaku bagi anda dan saya. Ketika saya pertama menginjakkan kaki di kampus ini, ada satu pertanyaan yang muncul waktu itu. Apakah betul saya sudah menjadi mahasiswa?. Pertanyaan ini selalu mengiringi langkah yang kutapaki hari lepas hari. Apakah cukup statusnya mahasiswa yang dilengkapi dengan atribut Kartu Tanda Mahasiswa (KTM), Jas Almamater dan Sertifikat telah mengikuti Oreantasi Mahasiswa Baru, dan pertanyaan ini juga berlaku bagi anda semua. Saya membayangkan pertanyaan ini pada awalnya gampang di jawab, tetapi ketika saya renungkan hanya dengan memiliki KTM yang kemudian saya hanya melaksanakan aktivitas sebatas kuliah dan kos?. Akhirnya saya menyadari bahwa saya tidak sebatas itu. Tuhan sangat mulia ketika Dia memberikan banyak potensi dan dapat saya kembangkan untuk kepentingan pengembangan diri.
Selamat datang di Kampus Hijau/Indonesia Mini (Sebutan Bagi UKSW). Saya akan melanjutkan tulisan ini dengan pertanyaan, benarkah anda sekarang sudah menjadi mahasiswa? Apa buktinya?. Kalau hanya sebatas KTM (Kuliah hanya sebatas masuk kelas, isi absen, pulang kos, dan diisi dengan bermain saja), percuma jadi mahasiswa!!. Mendingan jadi gelandangan saja. Teman-teman yang saya hormati dan agungkan, kehadiran sebagai mahasiswa bukan menjadi robot berwajah muda, tetapi kehadiranmu untuk menjadi agen perubahan. Mejadi mahasiswa bukan satu tanggungjawab kecil tetapi tanggungjawab besar yang di pikul dimanapun anda berada. Keberadaanmu di UKSW dapat berarti bagi dirimu, orang tua, orang lain, masyarakat, bangsa dan Negara. UKSW adalah universitas yang sangat plural, yang memiliki nilai-nilai mendasar dalam membentuk mahasiswa. Satu hal yang perlu anda tahu bahwa UKSW menginginkan setia lulusannnya bercirikan Creative Minority. Profil inilah yang menjadi roh/semangat bagi UKSW dalam menciptakan lulusan yang berkompeten dan berbeda dengan lulusan Perguruan Tinggi yang lain. Ciri ini harus tertanam di hati dan pikiran setiap individu dalam lingkungan kampus. Kini kalian menjadi mahasiswa, lakukanlah tanggungjawabmu sebagai agen perubahan.
Teman-teman mahasiswa baru sekarang kalian sudah diikat dalam lingkungan kampus, banyak hal yang mungkin teman-teman belum rasakan ketika masih di SMA. Ruang/lingkungan kampus lebih banyak tawaran yang menarik, baik itu hal positif maupun hal negative. Keterikatan dengan lingkungan pendidikan baru ini menjadi tantangan untuk harus dikalahkan. Lingkungan baru ini sudah sangat berbeda dengan masa di SMA. Sekolah SMA yang kita ingat hanyalah pengalaman berteman, berkawan dan bergaul. Itulah yang diam-diam mematangkan emosi kalian, yang mendekatkan kalian dengan kenyataan dan membuat kalian memahami tentang keajaiban. Kini mahasiswa sepatutnya meletakkan itu dalam kerangka organisasi. Organisasi adalah jalan untuk mematahkan pengalaman sesat berfikir dalam pendidikan. Tempat berorganisasi paling ideal sampai sekarang hanya berada di kampus. Selama tinggal di kampus cobalah untuk aktif dalam organisasi karena itulah esensi dari pendidikan: mengalami, menyelesaikan dan mengerjakan semuanya secara bersama. Pendidikan bukan sebuah tempat untuk melatih kecerdasan semata. Pendidikan lebih dari itu, ia menanamkan nyali, ia menaruh kecurigaan besar akan kemapanan. Pendidikan adalah latihan kita untuk melakukan pemberontakan, menghasut pertanyaan dan melahirkan tata perubahan baru. Hanya dikatakan dewasa jika orang berani mengambil tindakan dan bertanggung jawab atas tindakannya itu. Organisasi dan gerakan adalah roh dari pendidikan tinggi; bukan kuliah dan diktat ujian. Yang terakhir itu hanyalah ornamen pendidikan; ada untuk sekedar menandakan bahwa di sana terdapat kegiatan belajar-mengajar .
Esensi menjadi mahasiswa bukanlah semata-mata kuliah dan kuliah, baca buku, tetapi perlu ditunjang dengan pengalaman organisasi maupun diskusi-diskusi. Universitas ini hanyalah baigian terkecil dari masyarakat, masyarakatlah universitas besarnya. Pengalaman paling berharga adalah ketika berorganisasi, berdiskusi dan mendapatkan pengalaman yang akan mampu menunjang kita dalam menghadapi masyarakat. Organisasi yang paling ideal bagi mahasiswa adalah di kampus, seperti yang telah dijelaskan diatas. Manfaatkan waktu anda bukan hanya dipenuhi dengan proses belajar mengajar semata (yang mengekang anda pada ketersesatan berfikir), tetapi imbangi juga dengan pengalaman berorganisasi. Disitulah esensi kehadiran sebagai mahasiswa dan sebagai agen perubahan yang telah diagung-agungkan oleh banyak orang.
Akhir kata:
Mengertikah anda tentang kehadiranmu sebagai mahasiswa?
Apa yang menbedakan anda dengan Lulusan FKIP UKSW dengan Lulusan FKIP Perguruan Tinggi lain?
Apa Artimu Hari Ini?
Ketiga Pertanyaan Ini jadikan Refleksi bagi diri anda sekalian dan jawablah setip saat dan disitu anda akan mengerti akan artimu sebgai mahasiswa.
Selamat Bermahasiswa!!!!!!
Materi ini saya bawakan waktu penerimaan mahasiswa baru 2010 Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan UKSW.